Permainan Tradisional Indonesia, Nyaris Punah, Lestarikan Yuk!

Permainan Tradisional – Bicara soal permainan, mungkin anak-anak jaman sekarang akan lebih banyak membicarakan permainan modern lainnya. Sementara, pada tahun 1970-an permainan tradisional banyak dimainkan oleh anak-anak Indonesia.

Permainan-Tradisional-Indonesia,-Nyaris-Punah,-Lestarikan-Yuk!

Munculnya sejumlah alat teknologi membuat permainan tradisional tergeser. Padahal, permainan tradisional lebih mudah, hemat biaya, mengutamakan kebersamaan, kecerdasan, dan ketangkasan. Berikut ini ada 15 permainan tradisional yang bisa mulai kita lestarikan kembali, dikutip dari buku Permainan Tradisional Anak Nusantara yang diterbitkan oleh Kemendikbud dan Badan Bahasa:

1. Hompimpa atau Gambreng

Hompimpa-atau-Gambreng

Hompimpa atau gambreng dilakukan untuk mengawali berbagai permainan lainnya. Dalam budaya Jawa, hompimpa dilakukan sembari mengucapkan kalimat “Hompimpa alaium gambreng”.

Sementara dalam budaya Betawi, hompimpa diucapkan dengan kalimat “Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng”. Inilah mengapa hompimpa sering disebut juga dengan permainan gambreng.

  • Aturan Permainan:

Permainan ini dilakukan oleh lebih dari dua orang dan secara serentak. Hompimpa diucapkan dengan letak tangan berhimpitan. Ucapkan “Hompimpa alaium” sambil mengepakkan telapak tangan, dan saat “gambreng” maka masing-masing anak membalikkan tangan atau tidak membalikkannya. Warn tangan apa yang paling sedikit, dialah yang menjadi pemenang.

2. Lompat Karet

Lompat-Karet

Permainan dari karet gelang sangat digemari oleh anak-anak. Sebelum bermain, anak-anak harus mampu mengepang terlebih dahulu karetnya sehingga menjadi sebuah tali yang panjang.

  • Aturan Permainan:

Permainan ini bisa dimainkan oleh satu orang atau lebih. Jika bermain sendiri, kedua ujung karet bisa dipegang sendiri menggunakan kedua tangan dan mulai memutarkan talinya ke bawah ke atas. Jika bermain beramai-ramai, dua orang harus memegang karet dari masing-masing ujung. Dua orang tersebut akan memutar tali karet sesuka hati, bisa searah jarum jam atau berlawanan.

Anggota permainan akan melompati tali karet tersebut sesuai giliran masing-masing. Pemain yang terkena tali karet saat melompat, dianggap kalah sehingga harus berhenti bermain dan bertukar dengan temannya.

3. Engklek

Engklek

Sejumlah anak bermain Permainan Tradisional yang dilukis di Gang Sayuran 2, Jalan Gempolsari, Bandung, Jawa Barat. Karangtaruna 02 Gempolsari berinisiatif melukis Gang Sayuran 2 dengan permainan tradisional yang memuat unsur huruf dan angka braille guna mewujudkan lingkungan yang lebih edukatif. Siapa yang tak mengenal permainan ini? Engklek atau gacok merupakan permainan tradisional di Indonesia yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Gacok dapat berupa batu atau keramik yang besarnya berkisar 5-7 cm atau lebih, yang dibuat pipih dan tidak tajam.

  • Aturan Permainan:

Batasi lokasi bermain dengan garis kotak-kotak menggunakan kapur atau batu bata. Buat enam kotak dari atas ke bawah. Pada kotak kelima, buat lagi kotak kanan dan kiri sehingga membentuk seperti huruf T. Pemain boleh dua orang atau lebih. Pemain harus melempar batu dari kotak terdekat atau kotak pertama. Jika batu tidak meleset, pemain boleh melanjutkan dengan melangkahi kotak pertama sambil jinjit satu kaki. Siapa yang sampai ke kotak akhir terlebih dahulu, ialah pemenangnya.

4. Gundu

Gundu

Bermain kelereng sering juga disebut dengan permainan gundu atau guli. Di daerah Jawa, permainan ini disebut bermain nekeran, di Palembang disebut ekar, dan di Banjar disebut kleker. Permainan ini banyak diminati oleh anak laki-laki, tetapi kadang anak perempuan ikut bermain juga.

  • Aturan Permainan:

Buatlah sebuah lingkaran dan letakkan semua kelereng dalam lingkaran. Secara bergiliran, pemain harus membidik kelereng dari luar lingkaran. Kelereng hasil bidikan yang keluar dari lingkaran akan menjadi milik pemain. Syaratnya, kelereng yang digunakan untuk membidik tidak boleh berhenti dalam lingkaran

5. Layang-Layang

Layang-Layang

Bermain layang-layang sangat menyenangkan apalagi jika diterbangkan tinggi di udara. Bermain layang-layang bisa dilakukan sendiri atau bersama teman. Biasanya, permainan ini dilakukan saat cuara cerah. Hembusan angin akan membantu layang-layang segera terbang ke langit. Layang-layang bisa didapatkan di pasar, bisa juga dibuat sendiri. Cara menerbangkannya menggunakan benang.

  • Aturan Permainan:

Menerbangkan layang-layang harus di tempat terbuka dan dalam cuaca berangin. Permainan ini menuntut keahlian menerbangkan layang-layang. Pemain harus bisa mengira-ngira hembusan angin apakah kencang atau tidak, untuk dapat mengambil keputusan menarik atau mengulur benang layangannya.

6. Congklak

Congklak

Permainan yang dimainkan dua orang ini cukup populer di tanah Jawa. Orang Jawa menyebutnya dengan bermain dakon, sedangkan warga Sumatra menamainya congklak. Permainan ini disebut dentuman di Lampung dan mokaotan di Sulawesi. Permainan ini menggunakan papan kayu yang diberi lubang sesuai kebutuhan. Biji congklak bisa berupa biji-bijian atau kerikil kecil. Jumlah biji-bijian congklak beragam, sesuai kebutuhan permainan. Dua baris lubang pada papan congklak berjumlah 14 dengan masing-masing pemain punya 7 lubang. Satu lubang berisi 4 biji congklak. Ada dua lubang besar di bagian ujung papan untuk menyimpang biji yang tersisa.

  • Aturan Permainan:

Pemain pertama membagikan biji dari satu lubang ke lubang lain, termasuk milik lawan. Jika biji terakhir berakhir di lubang yang masih ada biji congklak, biji tersebut diambil dan disebarkan kembali pada lubang lainnya. Namun jika biji terakhir jatuh pada lubang yang kosong, pemain dianggap “mati” atau berhenti sejenak. Giliran pemain lawan melakukan hal yang sama sampai ia berhenti pada lubang yang tak ada bijinya.

Baca Juga: Tradisi Sunda yang Diwariskan Turun Temurun, Unik Wajib Tahu!

7. Ular Naga

Ular-Naga

Nyaris semua anak pasti pernah memainkan permainan ular naga yang dilakukan oleh lima atau delapan anak ini. Permainan dilakukan dengan kompak. Dua orang anak saling berpegangan bertugas sebagai pintu gerbang. Anak-anak yang lain berpegangan pada pundak orang di depannya, membentuk ular.

  • Aturan Permainan:

Sebelum bermain, dilakukan hompimpa. Dua orang yang terakhir kalah menjadi pagar atau gerbang. Pemain yang pertama menang hompimpa akan menjadi induk naga. Dia berada paling depan, diikuti pemain lain di belakangnya. Ular naga berjalan mengelilingi pagar sambil semua bernyanyi “Ular naga panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Kini dianya yang terbelakang.” Ketika lagu selesai, gerbang akan menurunkan tangan dan menangkap salah satu pemain dengan cepat. Anak yang ditangkap akan diminta memilih pagar mana yang ingin diikutinya sampai ular naga habis. Setelah itu, pagar yang memperoleh anak paling sedikit harus kejar-kejaran merebut anak paling belakang pagar lainnya. Namun tidak boleh ada yang lepas dari pegangan di pundak satu sama lain.

8. Egrang

Egrang

Bermain egrang cukup menantang dan seru. Kamu bisa merasakan berjalan dengan ketinggian. Peralatan yang digunakan adalah dua buah bambu yang berukuran sama besar, kira-kira dua sampai tiga meter dengan pijakan yang sama tinggi pada masing-masing bambu.

  • Aturan Permainan:

Naikkan kedua kaki pada bagian tempat kaki sembari kedua tangan berpegangan pada gagang egrang. Tidak mudah menjalankan permainan ini sebab dibutuhkan keahlian dalam keseimbangan badan. Permainan ini bisa dilakukan bersama teman seperti siapa yang paling lama bertahan di atas egrang, atau siapa yang lebih dulu mencapai garis finis dengan egrang yang menjadi pemenang.

9. Tebak Wajah

Tebak-Wajah

Permainan ini dilakukan oleh dua orang atau lebih. Sebelum bermain, lakukanlah hompimpa terlebih dahulu untuk mengetahui wajah siapa yang akan ditebak. Permainan ini melatih kejujuran dan sportivitas.

Aturan Permainan:

Pemain yang kalah hompimpa akan menutup matanya dan menghitung sampai lima. Juga Pemain lain akan menjadi patung. Pemain yang menutup mata akan meraba satu per satu wajah yang menjadi patung. Jika sudah yakin dengan jawabannya, ia akan menebak dengan lantang siapa yang dirabanya itu. Perlu dibuat aturan bahwa anggota badan yang boleh diraba hanya bagian wajah dan tangan. Jika pemain yang menutup matanya menebak dengan benar siapa yang diraba, dia boleh membuka matanya kembali. Selanjutnya, dilakukan tukar posisi agar pemain sebelumnya mendapat giliran menutup mata dan menebak temannya.

10. Kereta Api

Kereta-Api

Ini juga merupakan salah satu permainan yang paling sering dimainkan anak-anak. Permainan ini hampir sama seperti bermain ular naga, namun ada yang berbeda termasuk pada nyanyiannya.

Aturan Permainan:

Anak-anak yang terdiri dua orang atau lebih harus membentuk barisan kereta api dengan berpegangan pundak. Nyanyian yang dibawakan saat kereta api berjalan memutar adalah “Naik kereta api, tut-tut-tut. Siapa hendak turun, ke Bandung, Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama”. Semakin lama, kereta api akan berjalan semakin cepat. Masinis yang berada di paling depan akan mempercepat langkah. Siapa yang pegangan pundaknya terlepas, maka ia yang kalah.  Bagi Anda yang tertarik dengan beragam pembahasan mengenai Indonesia, Anda bisa melihatnya dengan klik link berikut ini archipelagofestival.id

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *